Media Warga Online | Berita Dari Warga Untuk Warga

Slider

Pemberdayaan Masyarakat

Info Dari Desa

Ekonomi | Bisnis

Sosial Budaya | Kesra

Kolom UMKM

Urbanesia | Perkotaan

Rakyat Lampung Terus Tagih Janji Gubernur dan Wagub

Gubernur Lampung Ridho Ricardo

Bandar Lampung, Mediawarga.info - "Gugatan class action rakyat Lampung menagih janji Gubernur Lampung Ridho Ricardo dan Wagub Bakhtiar Basri terus berlanjut. Senin pukul 10 sidang lagi di Pengadilan Negeri Tanjungkarang.  "Mohon doa dan dukungan rakyat Indonesia," ujar Koordinator Nasional Team Advokasi Gerakan Rakyat (TEGAR) Indonesia, Agus Rihat P. Manalu melalui rilis yang diterima  mediawarga.info, Minggu (23/8).

Pasca mediasi gagal, class action "Tagih Janji Ridho-Bakhtiar" dilanjutkan kembali, Senin (24/8) dengan agenda pembacaan materi gugatan di depan majelis hakim Nelson Panjaitan, Ahmad Suhel dan Sutaji. Agus Rihat yang sedang dalam perjalanan darat menuju Bandar Lampung, mengaku tak peduli atas berbagai intrik dan fitnah yang datang, khususnya saat gugatan class action rakyat Lampung.

"Dari 98 dulu intrik dan fitnah sudah biasa. Toh buktinya sampai hari ini saya masih berdiri membela rakyat yang tertindas. Biar sejarah yang mencatat. Fiat justitia ruat caelum, tegakkan keadilan walau langit runtuh," imbuhnya.

Terpisah, juru bicara para penggugat wakil rakyat Lampung, Ricky Tamba berharap majelis hakim di PN Tanjungkarang memiliki hati nurani dan peka atas harapan rakyat Lampung yang ingin daerahnya maju dan sejahtera. Selain itu, dia juga berharap gerakan tagih janji berupa class action menggugah para aktivis yang terlelap di tengah penderitaan rakyat dan pengkhianatan Pancasila oleh elite.

"Class action ini simbol api perjuangan rakyat melawan penguasa yang ingkar janji. Semoga makin membara tak pernah padam, terangi tak hanya seantero Sai Bumi Ruwa Jurai, tapi juga seluruh republik. Ayo pemuda dan rakyat di seluruh NKRI tagih janji para pemimpin, sebagai bentuk kecintaan pada Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati. Lawan nekolim neoliberalisme dan anteknya, tegakkan Pancasila!" pungkas Ricky. (RID)

Presiden "Bandel"


Mediawarga.info--Rupiah anjlok, inflasi ‘’mengganas’’ dan semakin mencekik rakyat. Utang negara menggunung sampai Rp 4.201 Triliun, dan Jokowi masih saja bicara ‘’aman?’’.  

Presiden macam apa yang tenang – tenang saja saat ekonomi bangsa terancam ambruk seperti ini?

Bukankah sejarah sudah mengajari kita? Ekonomi yang dibangun dari utang dan modal asing pasti akan mudah digoyang oleh negara produsen Kapitalisme global, Amerika Serikat.

Tahun 1998 ekonomi Indonesia Chaos karena utang dan diperparah dengan mengenaskannya kurs Rupiah terhadap dollar. Tahun 2008 Indonesia terancam ‘’sekarat’’ karena ekonomi Paman Saman sedang ‘’batuk – batuk’’. Semua itu disebabkan karena satu, Kebijakan Presiden yang ‘’bandel’’.

Kalau saja Jokowi tidak ‘’bandel’’ membiarkan Maskapai Garuda beli pesawat Boeing atau Airbus dengan harga dollar, mungkin besaran ekspor kita bisa lebih tinggi dari pada impor. 

Harusnya pengadaan armada Garuda bernilai puluhan Trilyun itu ‘’di-PR-kan’’ PT. DI Bandung, kapan lagi BUMN kita dapat order kalau bukan dari konsumen dalam negeri?

Kalau saja Jokowi berani secara ‘’jantan’’ memaksa perusahaan – perusahaan, khususnya BUMN membayar deviden atau transaksi impor pakai Rupiah. Barangkali ‘’keperkasaan’’ dollar bisa di atasi.

Kalau sudah tahu ekonomi global sedang krisis. Yunani, Siprus, Zimbabwe, Puerto Rico dan Nauru bangkrut gara – gara utang yang berlebihan, kenapa Jokowi masih saja ‘’bandel’’ membiarkan Rini Soemarno (Menteri BUMN) berutang Rp 520 Triliun? Ini kesannya Presiden kok ‘’hura – hura’’ tanpa memikirkan rupiah yang semakin terpuruk.

Aktivis dan rakyat bukannya sudah memberi ‘’alarm’’ pada 1998. Jika harga beras untuk perut rakyat semakin meroket, ekonomi dikuasai barat, kekayaan alam dijarah kapitalis asing dan Rupiah menjadi mata uang ‘’sampah’’, itu artinya sudah waktunya Presiden untuk turun sebelum diturunkan!.

Rakyat tidak makan pencitraan. Rakyat tidak minum demokrasi ‘’yang katanya dianggap’’ sukses. Detik semakin berjalan, Masyarakat Ekonomi ASEAN semakin mendekat bak setan yang hendak melumat perekonomian nasional.

Jika ingin mempercepat laju investasi, bukan penghapusan bahasa Indonesia untuk orang asing caranya. Investasi sangat tidak ada hubungannya dengan bahasa. Jika kau jujur, ulet, intelek, inovatif dan punya infrastruktur ‘’Iblis’’ pun mau memberimu modal usaha bung!. Ini adalah kebijakan paling tidak nasionalis yang pernah dilakukan Presiden sejak Republik ini berdiri.

Ketika orang – orang asing menyerbu Indonesia, harusnya bahasa Indonesia menjadi tameng terakhir pertahanan apakah manusia Indonesia dapat memenangkan kompetisi atau tidak. Eh ini malah dihapus, jadi sebenarnya kau ini ‘’Pelayan’’ rakyat atau asing?

Saat mahasiswa Singapura, Malaysia dan Thailand belajar keras tentang manajemen ekonomi, audit keuangan, teknik pembangunan dll. Kami mahasiswa Indonesia disuguhi pertunjukkan ‘’badut politik’’ dan ‘’tikus berdasi’’ setiap hari. Mana bisa kami berkompetisi dengan lulusan dari luar? Apa pemerintah tidak sadar kalau sistem pendidikan kita sangat tidak berkualitas? Benahi dulu pendidikan baru bicara Investasi. Kalau kita masih bodoh mana ada Investor yang mau datang? Kalau pun datang mereka sendiri yang akan menjadi Bos dan kita ‘’budaknya!’’.

Sebelum Rupiah semakin anjlok dan utang negara menggelembung hingga nominal yang tak dapat dikendalikan. Mending Presiden jangan ‘’bandel’’ deh, jangan ‘’bandel’’ kalau dikasih ‘’nasihat!’’. tapi kalau masih saja bersikeras seperti Soeharto, ya siap – siap saja turun dari ‘’kursi’’ pemberian kami (rakyat Indonesia).

Oleh : Muhammad Mu’alimin, Ketua Umum HMI Komisariat Universitas Al Azhar Indonesia, Ketua DPC PERMAHI Jakarta Selatan, Anggota FLP Jakarta