Deklarasi Aset Amnesti Pajak Indonesia Tertinggi di Dunia

Jakarta, Mediawarga.info--Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) menyatakan bahwa deklarasi amnesti pajak Indonesia tertinggi di dunia.

Perkuat Perencanaan Kota Indonesia, Bank Dunia Gagas Program "City Planning Labs"

Pada tahun 2025, diperkirakan 68% penduduk Indonesia akan tinggal di kota, tetapi minimnya budaya berbagi data dan sarana teknologi informasi untuk melakukannya membatasi kemampuan kota-kota untuk mengelola informasi dan tantangan yang mereka hadapi.

Masril Koto, Dari Petani Menjadi Wirausahawan Sosial. #CoretanRidwan

Nama ini demikian populer di kalangan aktivis civil society dan komunitas pertanian di Indonesia. Namanya mulai dikenal luas setelah muncul ke publik melalui sebuah acara talkshow di MetroTV

Indonesia Harus Tetapkan Indikator Kemiskinan Multidimensi

Tahun 2005, terjadi kontroversi, ketika Bank Dunia meluncurkan laporan kemiskinan yang berjudul “Era Baru Pengentasan Kemiskinan di Indonesia”

Ketimpangan Sosial di Indonesia Semakin Lebar

Dibanding negara Asia Timur lainnya, tingkat ketimpangan antara penduduk kaya dan miskin di Indonesia relatif tinggi dan naik lebih pesat.

Jumat, 02 Desember 2016

212 (Dua Satu Dua) | Puisi #STR


Aksi Ribuan umat Islam mengikuti aksi super damai 212 di Lapangan Monas, Jumat (2/12/2016). Sumber : Republika Online

Jumat berkah terpancar cahaya
Di bawah tenda keimanan
Di atas bumi keyakinan
Kumandang takbir  elok bersahutan
Disaksikan senyuman langit biru
Ribuan pasang kaki
berseru menyebut nama-Mu
Menjelma nyata lautan manusia
Lafaz nan suci mengaduh di udara.

Mereka berbaris penuh santun
Berbalut kain putih
berdzikir tekun
Bukan kepada istana negara
Bukan pula menuntut penguasa bangsa
Bukan dan jelas bukan.

Mereka bersatu mengetuk pintu langit
Bercakap ramai-ramai  
kepada Yang Maha Esa
Bahwa benar adalah benar
Bahwa hitam selamanya hitam
Tentang sebuah penistaan
Tentang runtuhnya keadilan.

Dua satu dua
Sebuah sejarah telah ditorehkan
Berjuta umat mengidungkan tembang perdamaian
Menjunjung tegak ayat suci Alqur'an
Maka niscaya lekas diijabah Tuhan.

Oleh: Razalosca #STR
Penyair Lampung

Long March, Hijrah Ulama, dan Masa Depan Indonesia


Aksi Long March Pemuda-Pemuda Jawa Barat
Oleh:  DR Syahganda Nainggolan, Pendiri Lembaga Kajian Sabang Merauke Circle
 
Massa santri telah berangkat Long March (jalan panjang) dari Ciamis menuju Jakarta, kemarin, 28 November. Mereka ingin ikut aksi "Bela Islam 3", dengan tuntututan penjarakan Ahok, selaku tersangka penista agama. Ini adalah aksi revolusioner anak anak muda Sunda yang selalu menghiasi sejarah bangsa kita. Bayangkan jarak tempuh 270 kilometer yang biasanya bisa ditempuh enam sampai delapan jam dengan mobil bus, akan di tempuh mereka dengan berjalan kaki selama tiga hingga  empat hari.

Di masa lalu, awal kemerdekaan,  para pejuang dari 'Tatar Sunda' pun telah melakukan aksi Long March atau yang juga terkenal dengan sebutan 'Hijrah Siliwangi'. Saat itu hasil perjanjian Renville membuat RI harus mengeluarkan Jawa Barat dari wilayahnya. Demi kepatuhan pada pemerintahan Sukarno-Hatta, tentara divisi Siliwangi pun berpindah ke Jawa tengah. Sebagian berangkat ke Yogyakarta  dengan naik kereta api dan kapal laut. Namun, sebagian besar memilih berjalan kaki menuju ibu kota perjuangan RI tersebut.

Juga, di  masa akhir Orde Lama, anak anak mahasiswa Bandung juga  long march ke Universitas Indonesia, untuk bersama sama melakukan tuntutan Tritura kepada rezim Sukarno. Selain itu ada long march perjuangan mahasiswa di Jawa Barat, seperti Long March Bandung - Badega, tahun 1989 menuntut dikembalikannya tanah petani Badega yang dirampok pengusaha. Satu lagi ada Long March Bandung  ke Jakarta semasa rezim Megawati. Mungkin banyak juga catatan long March lainnya yang kurang terekam sejarah dari tanah sunda ini.

Long March dalam tradisi perjuangan memang menjadi sumber energi dan spirit yang sangat dahsyat. Para  peserta Long March akan bertemu dengan rakyat di sekitarnya dan saling membagi cerita perjuangan mereka. Sebuah penciptaan militansi.

Bagi umat Islam, long march juga bukan merupakan barang impor. Meskipun Long March Mao Ze Dong dan Partai Komunis China tercatat terpanjang dan terlama dalam sejarah dunia, namun long march kaum sipil sudah ada sejak zaman Rasulullah saat belaiu bersama sahabatnya Abu Bakar melakukan perjalanan panjang melintasi gurun berpindah dari Makkah ke Madinah, yang dikenal dengan sebutan Hijrah. Perjalanan panjang pun sebaliknya terjadi, yakni dari Madinah ke Makkah, yang dilakukan Rasulullah ketika hendak membebaskan Ka'bah dan Makkah yang dikuasai kaum Quraish (Fathu Makkah).

Jarak Makkah ke Madinah memang 180 kilometer lebih jauh dibanding dengan Ciamis ke Jakarta. Begitu pula tantangan keganasan alam berupa luasnya gurun pasir  dan panas terik matahari menunjukkan  beratnya beban masa Rasulullah tersebut dibandingkan long march umat Islam Ciamis Jakarta yang kini tengah dilakukan itu. Namun secara spirit dasarnya sama, yakni mencintai ajaran Allah, Rasulullah  SAW, dan para pewarisnya, yakni kaum ulama.

Spirit long march, tentu fenomenal. Spirit long march di Cina misalnya kemudian menghasilkan negara RRC yang saat ini kita kenal sebagai sebuah negara adidaya baru dunia. Namun, sebenarnya lebih fenomenal lagi adalah spirit long march atau Hijrah pada massa Rasulullah. Fenomena itu berhasil menciptakan sebuah konsep ‘negara’ dalam Islam, yang disebut "negara Madinah" yang terus lestari dan menjadi acuan ideal sampai kini meski sudah berselang 14 abad lamanya. 


Hebatnya lagi, bagi umat Muslim melalui fenomena Hijrah maka segala kejahilan peradaban yang ada Makkah berhasil disingkirkan dari kalangan kaum Quraisy. Bangunan suci  yang terdapat di dalam kota itu, yakni Ka'bah, pun berhasil dibersihkan dari segala macam praktik takhayul serta kebodohan.

Menyimak hal tersebut, maka tak heran bila di masa perang kemerdekaan peran 'spriit hijrah' yang kemudian diwujudkan dalam ekspresi long march Siliwangi menjadi punya pengaruh yang sangat besar bagi perjuangan bangsa. Situasi ini pun kian dimengerti karena divisi militer Siliwangi dan para pejuang rakyat di masa itu kebanyakan dari laskar perjuangan Islam.

Maka, tujuh dasa warsa kemudian, bila muncul aksi long march Ciamis ke Jakarta, saat ini pun suasana atau dasar semangat perjuangannya pun identik, karena juga merupakan buah pengaruh ulama yang  tak jemu memompa semangat mereka agar tetap berani berkorban dan berjuang. Alhasil, inspirasi long march dari Ciamis kali ini pun bersumber dari perjuangan Rasulullah SAW: ajaran militanisme.

Keberhasilan ulama dalam membangkitkan semangat umatnya, tanpa takut, terutama ketika mereka harus menghadapi penista agama dan cukong atau kekuatan pemodal yang ada di belakangnya sekarang ini, merupakan pintu masuk bagi bangsa ini untuk bangkit. Seorang begawan ekonomi Universitas Indonesia, yang menyelamatkan keberlangsungan eksistensi pasal 33 UUD45 dari gerakan amandemen, Prof DR Sri Edi Swasono, sempat merasa bahwa dengan tidak bisanya ulama ulama dikendalikan kekuatan asing dan cukong, memberi asa untuk Indonesia bisa menghadapi ancaman strategis bangsa-bangsa asing yang ingin menjajah negeri ini kembali.

Prof Sri Edi menginginkan saya mengutip ucapannya, yang baru tadi malam disampaikannya: "Saya malu sama Habib Rizieq. Saya dipanel dengan Rizieq dan dua orang senior sesepuh intelektual mantan jenderal TNI diskusi tentang Pancasila dan Komunisme, di Jakarta beberapa bulan lalu. Ternyata Rizieq lebih menguasai Pancasila  daripada kami bertiga. Bahkan Rizieq tanpa teks sama sekali. Untunglah saya, karena moral saya lebih kuat, karena ayah saya dibunuh PKI, saya coba mengimbangi kemampuan Rizieq itu."


Nah, selain merasa malu melihat kaum cendikiawan dan perguruan tinggi hidup di "menara gading", Prof Sri Edi, di masa tuanya ini pun baru sadar bahwa hanya ulama sajalah yang bisa melakukan perubahan besar negeri ini, sebagai pioneer.

Ini kembali membuktikan, bahwa semenjak dahulu para ulama memang selalu bahu-membahu menyadarkan umat untuk istiqomah melawan berbagai infiltrasi serta ancaman kekuatan 'aseng dan asing'. Apalagi, makna ulama dalam pengertian sesungguhnya adalah ilmuwan atau cendikiawan yang berbasis agama, sekaligus menjadi penunjuk jalan ummatnya di jalan Tuhan. Berbeda dengan cendikiawan biasa, ulama tidak menggunakan akal bebas, melainkan menterjemahkan wahyu Ilahi.

Lalu bagaimana kaitan ulama dan masa depan bangsa? Pertanyaan ini penting menjawab adanya kecurigaan segera mendominasinya peranan Islam dalam percaturan politik kita ke depan. Berbagai upaya sudah dilakukan kelompok kelompok kontra Islam. Mereka menebarkan berbagai spanduk  dan baliho besar tokoh tokoh kemerdekaan Indonesia, dari beragam suku dan agama, di seantero Jakarta. Juga spanduk "Semua Kita Bersaudara". Ada juga spanduk yang mempromosikan kebhinnekaan bangsa, dan banyak spanduk lainnya. Bahkan, berbagai aksi, diskusi, dan parade kebhinnekaan dilakukan.


Lebih mengerikan lagi, baru-baru ini,  ada orang yang kerap disebut sebagai kaum cendikia malah berusaha menista ulama besar NU, KH Ma'ruf Amin, dengan mempostingkan di tweeter foto ulama tersebut dengan istrinya yang disertai ujaran kata melecehkan.

Situasi obyektif yang terjadi saat ini memang arahnya dapat menuju perang saudara, mengulangi tahun 1965. Sebuah "Clash of Civilization" yang rumit. Rumitnya, jika meniru Sudan, maka sebuah negara mungkin bisa pecah secara mudah, membagi dua berdasarkan wilayah, menjadi Sudan dan Sudan Selatan.

Sedangkan pertarungan dua kelompok masyarakat di Indonesia saat ini susah untuk dibagi berdasarkan wilayah. Akibatnya, korban akan sangat besar nantinya dan bersifat lebih lama. Umat Islam melihat pesaingnya sebagai keberlanjutan 'Kolonialisme Penjajahan', yang menyingkirkan Islam dan kaum pribumi. Sementara yang anti Islam, menuduh Islam sebagai ajaran personal yang tidak punya hak konstitusional mengatur urusan negara dan bangsa.

Orang orang yang merasa tersingkirkan dari pembangunan dan kemajuan nasional akibat salah urus negara, melihat ulama dan Islam sebagai tumpuan harapan mereka. Sebaliknya, masyarakat anti Islam akan berlindung pada negara yang semakin liberal dan kapitalis.

Kita tentu perlu mengukur siapa akhirnya lebih kuat dalam menentukan nasib bangsa kita. Jika kaum ulama lebih kuat dan dipercaya rakyat, maka nantinya arah bangsa ini akan dipengaruhi para ulama, begitu juga sebaliknya.

Memang sekilas jalan lain kelihatannya sudah semakin buntu. Sebab, kobaran semangat pertikaian dan energi pertentangan kini terasa sudah terlalu lebih besar  daripada membangun kesepemahaman dan sinergisitas. Semoga hal buruk itu tidak sampai terjadi dan menimpa negeri tercinta ini. Wallahualam. 


Sumber: Republika Online

Rabu, 30 November 2016

Belajar Dari "Long March" Penaklukan Makkah



Ribuan Santri di Ciamis Jalan Kaki Menuju Jakarta Untuk Mengikuti Aksi Bela Islam Jilid 3 (Sumber: Vivanews)

Mediawarga.info--Yang jarang dikaji ummat Islam dalam kisah "long march" Nabi Muhammad SAW dalam penaklukan Makkah (Futuh Makkah) adalah bahwa ia bukanlah sebuah unjuk kekuatan kaum muslim kepada oligarki Quraisy yang menguasai Makkah, tetapi perjalanan tersebut merupakan prosesi religius bagaimana manusia menundukkan amarah.

Adalah Ibnu Arabi dalam tafsir-tafsir sufistik Pembukaan Makkah (Futuhat al Makiyah) yang menggambarkan perjalanan ke Makkah sebagai perang manusia menundukkan amarah.

Tidak ada satu pun darah yang ditumpahkan Nabi Muhammad SAW dalam penaklukan Makkah. 

Bahwa benar telah terjadi satu kekecewaan yang digerakkan oleh dorongan alamiah kemarahan (amarah) setelah menempuh ujian-ujian perjalanan menuju Makkah, tetaplah tinggal sebagai sesuatu yang terbenam (ghaizd). Ia tidak pernah keluar sebagai sesuatu yang terlampiaskan (ghadab).

Pada Bani Sulaim yang ditemuinya di ujung Kota Madinah, ia mengajarkan untuk menahan pedang-pedang dari menyakiti musuh yang telah menyerah.

Menjelang senja di desa tua Yaztrib di hadapan Khabalah Bani Qathafa ia melarang pasukannya membunuh orang tua, anak-anak dan perempuan. 

"...dan cegahlah tanganmu dari menyakiti orang-orang shaleh yang membunyikan kidung pujian dibihara-bihara dan gereja-gereja."

Rombongan bergerak dalam malam dingin udara Hijaz, tidak ada kata-kata cacian, hujatan, fitnah, kebencian kecuali kalimat tasbih, takbir, tahlil, tahmid, dan istigfar. Sampai bertemu mereka dengan pemilik ladang dari Bani Muzain yang bertanya apakah ia akan dibunuh dan harta benda miliknya akan dirampas. 

"...tahan tanganmu dari merusak tumbuhan, menghancurkan ladang-ladang, dan membunuh hewan tanpa alasan."

Pasukan bergerak dalam deraan penderitaan panas Gurun Hijaz. Kesusahan hidup dan kesenangan dibatasi oleh waktu yang fana, kematian hanya sehitungan tarikan nafas saja. 

Maka ketika pasukan dengan zirah yang dibunyikan, canting, tasbih, takbir, tahlil, tahmid dan istigfar itu memasuki Gapura Marr Zahran ditepi Kota Makkah. Peperangan telah diselesaikan.

"Apakah yang akan engkau harapkan aku lakukan kepadamu?" Ia berkata kepada rombongan besar pasukan Quraisy yang menyerah. 

"...adat kami adalah kematian bagi para pengkhiatan, dengan begitu engkau mengembalikan kehormatan kami wahai Muhammad."

 "Kehormatan manusia adalah ketika ia tercegah dari amarah yang terlampiaskan."

Maka pasukan muslim pada hari itu menyaksikan satu persatu pasukan Quraisy mengucapkan syahadah. Pasukan yang semasa lalu adalah orang yang akan membunuh mereka kini menjadi saudara.

Muhammad tersungkur ke tanah di bawah kaki Qashwa, unta tua yang lemah yang telah membawanya kembali dari perjalanan hijrah 13 tahun lalu untuk kembali ke Makkah.

"Bila datang padamu pertolongan dari Tuhanmu."

"dan di hari itu engkau Muhammad menyaksikan manusia dari segala penjuru datang berbondong-bondong kepada kemuliaan addin."

"Maka bertasbihlah dengan memuji nama Tuhanmu dan mintalah Ampunannya. Sesungguhnya ia adalah Tuhan yang Maha pemaaf."

Apabila hakikat telah menyeru dalam hati, Ibn Arabi melanjutkan dalam catatan, ketika ia tafakur pada tanah Makkah yang berdebu maka dunia ini hanyalah sebuah pentas bagi pengembara dan satu jembatan yang harus dijalani. 

Seandainya manusia tidak menghiasinya dengan sifat-sifat dan kemuliaan yang terhalangi kebencian dan kemarahan maka tiadalah akan terbuka jalan baginya menemukan kebahagian yang hakiki.

I'tibar apa yang bisa kita ambil dari Ribuan Santri di Ciamis Jalan Kaki Menuju Jakarta Untuk Mengikuti Aksi Bela Islam Jilid 3? Kita bisa berkaca dari tulisan di atas. Selamat berjuang saudara-saudaraku...

Sumber : Ilmu dan Perjalanan, Futuhat al Makiyah
Dari Status Akun Facebook Andi Hakim 

Sabtu, 19 November 2016

Aku Limbung [Puisi] | #CoretanRidwan

Ilustrasi
Oleh : Muhammad Ridwan

Kau membuatku limbung
Apa aku mulai buta warna?
Mengapa semua mendadak abu-abu
Apakah prisma itu salah biaskan cahaya?

"Kamu mulai goyah"
Semilir angin membisiku
Iblis selatan dan utara mulai tertawa-tawa
Menari-nari dipunggungku bak balerina

Kucoba bertahan
Berdiri,
Tak Tergoyahkan
Namun...
Sapuan kata-kata itu
Membuatku tambah goyah.

Kucoba tinju semburat wajah itu
Terpental hampa udara
Selabirin itukah bayanganmu?
Membuat hati zig zag tanpa arah

Semakin memejam
Semakin mencekam,
Semakin jarak mengikis tajam,
Hingga rindu mencabik
Ketidakberdayaan dengan kejam

Aku memang limbung....
Tapi..
Wajah-wajah dalam tidur itu
Telah lepaskan rantai karat
Di tepi gelanggang hati.

Pringsewu (15/11/2016)

#BelajarCiptaPuisi

Muslim Rohingya di Tepi Daratan [Puisi] | #CoretanRidwan

Pengungsi Muslim Rohingya (Khilafah.com)

Oleh: Muhammad Ridwan 

Kaki-kaki tanpa alas itu terus berlari
Menembus lebatnya hutan Arakan
Melintasi negeri di bawah api
Seberangi tapal-tapal batas tirani kebencian.

Berlari, berlari dan terus berlari
Tanpa lelah, tanpa persinggahan
Dibayangi serigala-serigala kelaparan
Yang dilepas sang raja kegelapan 

Lalu...
Kakinya bersimpuh, tangannya meninju bumi
Langkahnya terhenti di tepi daratan
Ketika benteng samudera menghadang.

Pemilik mata cekung itu bergumam
Ribuan jejak langkah kami ada di hutan, gunung dan sungai
Kemana engkau wahai Muslim sedunia?
Kenapa sekoci penolong itu belum datang?
Muslim Rohingya laksana hewan buruan.

Tolong-tolonglah kami...
Sang Raja dari para Maha Raja...
Kilatan-kilatan parang telah terlihat dipunggung gunung
Sepatu-sepatu lars telah tiba di ujung Tanjung.
Apakah takdir kami sudah dipenghujung?
Apakah sayap-sayap malaikat telah Kau siapkan?

Kemudian...
Hening....
Senyap...
Tidak ada lagi rintihan
Hanya deburan ombak samudera Bengali yang terdengar.

Bandarlampung, 19 November 2016.

#BelajarCiptaPuisi