Media Warga Online | Berita Dari Warga Untuk Warga

Slider

Pemberdayaan Masyarakat

Ekonomi | Bisnis

Dunia Islam

Politika

Sosial Budaya | Kesra

Berita Video

KBRI Yaman Didesak Bebaskan 21 WNI yang Diculik Syiah Houthi

Pemberontak Syiah Houthi

Mediawarga.info--WARGA Negara Indonesia (WNI) di Yaman berharap pihak KBRI sebagai pihak yang ditugaskan melindungi WNI segera bertindak untuk membebaskan 21 WNI yang ditangkap kelompok pemberontak Syiah Houthi.
Ke-21 WNI itu diculik ketika berada di dalam masjid. Di antaranya, 14 orang di Masjid Al Fath daerah Syumailah, 6 orang di Masjid as Sunnah wilayah So’wan, sedangkan 1 orang lainnya diculik di Masjid Assunnah Syarqoin, Wilayah Dairy.
“KBRI diharapkan dengan segera membebaskan WNI yang tertangkap dan mengevakuasi keluarga dan isteri WNI yang tertangkap karena ada 2 wanita dan 10 anak anak. Dan saran kami sebaiknya evakuasi keluarga korban dilakukan penjemputan oleh KRBI agar lebih aman dan mengingat mereka adalah anak anak dan wanita,” ujar WNI di Yaman, Abd Aziz, kepadaIslampos, Ahad (29/3/2015).
Dikatakan Abd Aziz, KBRI memang telah merencanakan langkah evaukuasi keluar ibukota. Namun, WNI berharap, hal itu bisa dilakukan dengan segera.
“Karena sampai saat ini pengungsi masih berada di penampungan kantor KBRI di Sanaa yang letaknya dekat dengan gudang senjata sebagai target operasi penyerangan kepada pemberontak Syiah,” kata Abd Aziz yang juga Mahasiswa Andalus University ini.
Seperti diketahui, sebanyak 21 WNI dikabarkan telah diculik oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi. Penculikan ini dilakukan ketika para pelajar Indonesia sedang berada di masjid-masjid di Ibukota Yaman, Sanaa.
Hingga kini, kelompok pemberontak tersebut tidak menjelaskan maksud penangkapan para pelajar Indonesia tersebut. “Tidak ada yang diberitahu dengan jelas oleh pihak Syiah Houthi.”
“Tapi yang jelas mereka semua ditangkap di Masjid semuanya di atas jam 10 malam,” papar Abd Aziz. [Pz/Islampos]

Raja Salman: Operasi Militer Melawan Syiah Houtsi Berlanjut, Kemerdekaan Palestina Tetap Menjadi Prioritas

Raja Salman dari Saudi Arabia
Kairo, Mediawarga.info--Dalam sambutannya pada pembukaaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-26 di kota Syarm El-Syeikh, Mesir, pada Sabtu (28/3/2015) kemarin, Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud mengatakan, “Beberapa hari yang lalu, kota ini menyaksikan diselenggarakannya Konferensi Ekonomi Dunia, di mana diwujudkan dukungan masyarakat Arab dan internasional untuk Mesir. Hari ini, kita bertemu untuk membicarakan cara-cara untuk mengatasi krisis politik dan keamanan negara-negara Arab yang mengalami penderitaan, dan untuk mengatasi berbagai tantangan yang kita hadapi,” sebagaimana dikutip alriyadh.com.
Raja Salman juga mengatakan, “Realitas terorisme yang mengerikan, konflik internal, dan pertumpahan darah yang dialami oleh sejumlah negara Arab merupakan hasil tak terelakkan dari aliansi antara terorisme dan sektarianisme, yang dipimpin oleh kekuatan regional yang intervensi terang-terangannya di wilayah Arab telah mengakibatkan rusaknya keamanan dan stabilitas di beberapa negara. Di Yaman, intervensi asing membuat milisi [Syiah] Houtsi bisa menyalip otoritas yang sah, menduduki Sana’a, dan mengganggu pelaksanaan Prakarsa Teluk yang telah berupaya untuk melestarikan persatuan, stabilitas dan keamanan Yaman.”
“Tanggapan Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) terhadap permintaan Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi untuk mengadakan Konferensi Dialog Riyadh di Riyadh di bawah payung Sekretariat Jenderal GCC dimaksudkan untuk memberikan Yaman proses yang aman menuju stabilitas dan untuk memastikan kembali ke kondisi normal dalam kerangka Prakarsa Teluk dan mekanisme pelaksanaannya yang telah merasakan dukungan Arab dan internasional,” tegasnya.
“Saat milisi Houtsi – yang didukung oleh kekuatan regional yang bertujuan memperluas dominasi mereka di Yaman dan menggunakannya sebagai basis untuk pengaruh mereka di kawasan itu – melanjutkan kerasnya pendirian dan penolakan mereka terhadap peringatan dari legitimasi Yaman, GCC, Dewan Keamanan dan semua inisiatif perdamaian, serta ketika mereka bergerak maju dalam agresinya terhadap rakyat Yaman dan otoritas yang sah, dan mengancam keamanan wilayah; negara-negara [yang bersatu] dalam persaudaraan dan persahabatan berpartisipasi dalam [operasi militer gabungan GCC bertajuk “Aashifatul Hazm” atau] Badai Penghancur telah menerima permintaan dari Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi untuk mempertahankan Yaman dan rakyatnya serta otoritas yang sah, untuk mencegah agresi Houtsi yang merupakan ancaman besar bagi keamanan dan stabilitas wilayah dan perdamaian dan keamanan internasional, serta untuk melawan organisasi teroris itu,” Raja Salman menambahkan.
Ia juga mengatakan, “Sebagaimana kami tidak pernah berharap mengambil keputusan ini, kami menekankan pada saat yang sama bahwa Riyadh membuka pintu bagi semua partai politik Yaman yang berkomitmen untuk keamanan dan stabilitas Yaman, untuk bertemu di bawah payung GCC dan dalam rangka menjaga legitimasi, penolakan setiap pelanggaran legitimasi, menjamin kembalinya kontrol negara atas semua wilayah Yaman, mengembalikan semua senjara ke negara, dan menahan ancaman keamanan Negara tetangga. Kami berharap bahwa mereka yang memberontak terhadap legitimasi, akan mendengarkan suara kebenaran dan berhenti tergantung pada kekuatan pasukan asing, serta berhenti mengganggu keamanan rakyat Yaman dengan mempromosikan sektarian dan pembibitan terorisme.”
“Operasi Badai Penghancur akan berlanjut sampai tujuan tersebut tercapai, sehingga rakyat Yaman dapat menikmati keamanan dan stabilitas. Dalam konteks ini, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada negara-negara yang berpartisipasi dalam operasi Badai Penghancur, sebagaimana negara-negara di seluruh dunia yang mendukung operasi ini akan, in syaa Allah, memberikan kontribusi untuk mendukung perdamaian dan keamanan di kawasan ini dan dunia,” tambahnya.
Ia menegaskan, “Perkara Palestina berada di barisan depan keprihatinan kami. Sikap Kerajaan Arab Saudi adalah tegas seperti yang selalu didasarkan pada asas dan landasan yang bertujuan untuk mencapai perdamaian yang adil dan komprehensif di wilayah tersebut, dan pada pemulihan hak-hak sah rakyat Palestina, termasuk hak sah mereka untuk membangun negara merdeka dengan Al-Quds sebagai ibukotanya, yang konsisten dengan resolusi legitimasi internasional dan inisiatif perdamaian Arab pada tahun 2002 yang disambut oleh masyarakat internasional dan diabaikan oleh ‘Israel’.”
“Kerajaan Arab Saudi percaya bahwa telah tiba saatnya bagi masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawabnya, dengan dikeluarkannya resolusi Dewan Keamanan yang mengadopsi Inisiatif Perdamaian Arab, menjalankan kekuasaan menuju penerimaannya, dan menunjuk seorang utusan internasional yang berkompeten untuk mengikuti pelaksanaan resolusi internasional yang relevan dengan inisiatif ini,” tambahnya. (Arrahmah.com)

Turki Tawarkan Bantuan ke Saudi untuk Gempur Syiah Houtsi


TURKI, Mediawarga.info--Pemerintah Turki menyatakan dukungan pada operasi militer pimpinan Arab Saudi terhadap pemberontak Houtsi di Yaman. Operasi yang disebut sebagai “Operation Decisive Storm”.
Turki juga menyerukan agar Houtsi dan para pendukung asingnya segera menghentikan aksi-aksi mereka yang dapat mengancam perdamaian dan kestabilan kawasan tersebut.
Menurut pemerintah Ankara, operasi militer ini adalah upaya untuk mengembalikan posisi pemerintahan yang sah di Yaman dari rongrongan atau aksi grup teroris.
Seperti diberitakan oleh Al-Arabiya yang mengutip wawancara dengan France 24, Erdogan menyatakan bahwa Turki siap memberikan bantuan logistik untuk mendukung operasi militer ini.
“Kami mendukung intervensi (yang dipimpin) Arab Saudi,” kata Erdogan dalam wawancara tersebut, sebagaimana dilansir antiliberalnews pada Ahad (29/3/2015).
“Turki mungkin mempertimbangkan untuk memberi dukungan logistik berdasarkan perkembangan situasi,” lanjutnya.
“Iran dan grup teroris itu harus mundur,” tambah Erdogan. (Arrahmah).

Siapakah Pemberontak Houthi?


Mediawarga.info--Houthi atau dibaca hausi adalah kelompok pemberontak yang berpaham Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 imam. Seperti Syiah di Indonesia, Hausi juga menginduk Iran. Kelompok ini didirikan oleh Husein bin Badruddin al-Houthi di wilayah utara Yaman, tepatnya di wilayah Sha’dah. Awalnya mereka berpaham Syiah Zaidiyah, kemudian menjalin hubungan dengan Hizbullah Libanon, mereka pun berubah menjadi Syiah 12 imam yang ekstrim. Mengenai latar belakang kelompok ini sudah dijelaskan di artikel “Separatis Houthi dan Revolusi Syiah di Yaman”.
Ideologi Pemberontak Houthi
Sama sepertinya Syiah di Indonesia, Iran, Libanon, Irak, Bahrain, dan mayoritas Syiah yang ada di dunia, pemberontak Houthi pun berideologi Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 Imam. Di antara ideologi gerakan ekstrim ini adalah:
  • Ideologi imamah, yaitu bentuk ideologi yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan tidak sah kecuali dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
  • Membangkang kepada pemerintah dan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pemerintah.
  • Memprovokasi dan membangkitkan semangat pengikutnya untuk memerangi Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah meridhai selain Ali jadi khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum ajma’in.
  • Memuji-muji revolusi Khomeini dan Hizbullah Libanon. Mereka menjadikan keduanya sebagai teladan yang wajib dicontoh perjalannya.
  • Memusuhi tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi secara umum. Karena dari kaca mata ideologi Houthi dan Syiah 12 Imam, tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi adalah sumber bencana pada umat ini. Badruddin al-Houthi mengatakan, “Saya pribadi meyakini kekafiran mereka (para sahabat pen.). Mereka (para sahabat) berada di jalan yang berbeda dengan Rasulullah ﷺ.”
  • Mereka mengajarkan mencela dan melaknat istri-istri Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.
Husein al-Houthi mengatakan, “Seluruh kejelekan yang ada pada umat ini.., setiap kezaliman yang terjadi pada umat ini… dan segala bentuk penderitaan yang dirasakan umat ini… adalah tanggung jawab Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Khususnya Umar, dialah sutradaranya”.
Ia juga berkata tentang baiatnya para sahabat kepada Abu Bakar setelah Rasulullah ﷺ wafat: “Dampak kejelekan baiat itu masih terasa hingga sekarang”.
Pendiri gerakan separatis ini juga mengatakan, “Permasalahan Abu Bakar dan Umar adalah permasalahan besar. Merekalah dalang semua (keburukan) yang didapat umat ini”.
Karena itu, di Iran mereka melakukan revolusi. Di Bahrain melakukan pemberontakan. Di Libanon mereka menguasai kebijakan negara dengan militer non pemerintah yakni grup Hizbullah. Di Yaman mereka memberontak. Di Indonesia? Mereka pun sama. Mereka adalah Syiah 12 Imam.
  • Secara khusus mereka sangat membenci Umar. Seorang sahabat yang agung yang memadamkan api majusi dengan menaklukkan imperium Persia.
Husein al-Houthi mengatakan, “Muawiyah adalah buah di antara kejelekan Umar. Dan tidak hanya Muawiyah saja racun dari kejelekan Umar bin al-Khattab, Abu Bakar juga merupakan hasil dari kejelekannya. Demikian juga dengan Utsman, ia juga hasil kejelekan Umar”.
Bukti Eratnya Hubungan Houthi dengan Negara Syiah Lainnya
  • Husein bin Badruddin al-Houthi sangat terpengaruh dengan perjalanan hidup Khomaini. Ia berazam sekuat tenaga mewujudkan dan menjadikan Yaman seperti Iran.
  • Salah seorang saudaranya mempelajari metode revolusi dalam sebuah seminar praktik “Ittihadu asy-Syab al-Mukmin” yang diadakan pada tahun 1986 atas sponsor Iran.
  • Setelah ayahnya (Badruddin al-Houthi) kembali dari Teheran, ibu kota Iran, mulai banyak terjadi perselisihan dengan ulama-ulama madzhab Syiah Zaidiyah.
  • Kunjungan pemberontak Houthi ke Iran dan kunjungan balik Iran ke Yaman dalam pertemuan-pertemuan rahasia terkait “Ittihadu asy-Syab al-Mukmin” sebagai persiapan revolusi di Yaman.
  • Pembelaan televisi-televisi Syiah semisal al-Alam di Iran, al-Manar milik Hizbullah Libanon, dll. terhadap pemberontak Houthi saat pemberontak ini berperang dengan pemerintah Yaman.
  • Militer Yaman menemukan senjata-senjata Iran pada pemberontak Houthi.
  • Ditemukan dokumen di rumah sakit Iran di ibu kota Shan’a. Dokumen itu menunjukkan keterlibatan Iran dalam operasi spionase (mata-mata), dukungan keuangan, dan militer untuk Houthi. Rumah sakit Iran itu pun akhirnya ditutup oleh pemerintah Yaman.
  • Adanya lambang Hizbullah Libanon di markas-markas Houthi.
  • Sejak keberhasilan revolusi berdarah di Iran, Khomaini memang bertekad mengadakan revolusi serupa di negara-negara Arab.
  • Terdapat pejuang-pejuang Syiah Irak di baraisan pemberontak Houthi.
  • Orang-orang Syiah baik di Iran maupun yang lain, marah besar atas serangan terhadap pemberontak Houthi.
Bahaya dan Ancaman Gerakan Houthi
Pemikiran yang paling berbahaya dari kelompok pemberontak ini adalah keyakinan bahwa Imam Mahdi (versi Syiah) akan datang ke dunia. Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan tanah tempat kedatangannya untuk kemudian “membebaskan” dua tanah haram, Mekah dan Madinah. Kerajaan Arab Saudi harus segera dihancurkan. Kita bisa menyaksikan saat ini, Syiah berusaha mengepung kerajaan ini dengan men-Syiah-kan Irak, Libanon, dan Suriah untuk memagari Arab Saudi di bagian utara. Yaman di bagian selatan. Usaha untuk menguasai Mesir di sebelah barat. Dan Iran sendiri di sebelah Timur.
Dalam buku Ashru azh-Zhahir yang ditulis oleh seorang Syiah, Ali Kurani al-Amili, ditegaskan bahwa banyak terdapat hadits dari ahlul bait tentang revolusi Islam di Yaman.Yaman adalah tanah yang disiapkan untuk kedatangan Mahdi. Di dalam kitab tersebut disebutkan bahwa pimpinan revolusi bernama “al-Yamani” seorang Yaman yang bernama Hasan atau Husein dari keturunan Zaid bin Ali. Al-Yamani ini keluar dari daerah yang disebut Kur’ah. Sebuah desa di daerah Khaulan dekat Sha’dah.
Dialog Buntu, Operasi Militer Ditempuh
Bukan rahasia lagi, bahwa grup-grup ekstrim Syiah di dunia Arab memiliki hubungan erat dengan Iran. Negara para mullah ini seolah-olah menjadi ayah bagi para ekstrimis Syiah di Timur Tengah. Mereka mensponsorinya dan berdiri satu barisan bersama mereka. Iran dan agen-agennya di Timur Tengah sudah tidak bisa dipercaya lagi. Mereka selalu memainkan peran sebagai penipu dimanapun mereka berada. Politik damai sudah sangat jauh dari kata manjur mengatasi kezaliman mereka. Operasi militer pun harus ditempuh.
Diam-diam, pemberontak Houthi dibantu oleh mantan presiden Yaman yang digulingkan, Ali Abdullah Shaleh, untuk merebut ibu kota Shan’a dengan kekerasan dan teror. Padahal Ali Abdullah Shaleh ini punya hutang nyawa dengan Arab Saudi. Ia diselamtkan Raja Abdullah para pemberontakan yang hendak membunuhnya saat Arab Spring beberapa tahun silam.
Setelah berhasil merebut ibu kota Shan’a, grup pemberontak yang disupport Iran ini menutup setiap kemungkinan upaya rekonsiliasi yang diupayakan oleh negara GCC (Gulf Cooperation Council: Saudi Arabia, Kuwait, the United Arab Emirates, Qatar, Bahrain, dan Oman). Presiden Yaman, Abdrabbo Mansour Hadi, akhirnya meminta negara-negara Teluk, Liga Arab, dan komunitas internasional untuk campur tangan menghadapi pemberontakan berdarah yang dilakukan oleh separatis Houthi.
Arab Saudi dan negara anggota GCC (kecuali Oman), Yordania, Mesir, Sudan, Maroko dan Pakistan bahkan termasuk Turki menjawab panggilan tersebut dengan operasi militer yang dinamai dengan Decisive Storm.
Iran dan media-medianya Syiahnya –termasuk media-media Syiah di Indonesia- mengecam keras operasi militer ini. Tidak heran rezim Iran membela kelompok teroris ini, karena sebelumnya pun mereka telah menjadi sumber utama pergolakan dan ketidak-stabilan di berbagai wilayah. Terutama di Suriah, Libanon, Irak, dan Yaman. Karena itu jangan heran mereka menyebut aksi pembebasan kemanusiaan ini dengan penjajahan dan agresi militer.
Jika Yaman menjadi sekutu Iran, tentu keamanan Mekah dan Madinah kian terancam. Mereka bisa meluncurkan rudal-rudal balistik dari pangkalan militer di Yaman, “membebaskan” dua tanah suci dan menghancurkan Arab Saudi.
Tindakan preventif atas agresi terhadap tanah suci harus segera dilakukan. Menolong masyarakat Yaman adalah sebuah kewajiban. Dan dukungan moral dan doa kita kaum muslimin, tentu mereka butuhkan. (Arrahmah)

KTT Liga Arab Sepakat Bentuk Kekuatan Militer Bersama


Kairo, Mediawarga.info--PARA pemimpin Arab yang berkumpul pada pertemuan puncak (KTT) Liga Arab di Mesir akan segera mengumumkan pembentukan kekuatan regional yang bersatu untuk melawan tumbuhnya ancaman keamanan.
Langkah pembentukan kekuatan regional tersebut juga diumumkan oleh Presiden Mesir Abdel Fattah-El-Sisi pada sesi penutupan KTT Liga Arab di Sharm El-Sheikh, lapor Reuters.
Menurut pengumuman itu, negara-negara anggota Liga Arab pada prinsipnya setuju untuk membentuk kekuatan militer bersama dalam upaya untuk menghadapi ancaman keamanan.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil El Araby yang membuka sesi penutupan KTT, menekankan bahwa adanya kebutuhan mutlak pembentukan kekuatan militer bersama untuk menghadapi semua ancaman terhadap keamanan nasional negara-negara Arab.
KTT juga menyerukan kelompok pemberontak Syiah Houthi dukungan Iran untuk secepatnya meninggalkan ibukota Sanaa.[fq/islampos]

Jilbab Polwan Disahkan, Arzeti: Semoga TNI pun Mengikuti Jejak Polri


JAKARTA, Mediawarga.info--ANGGOTA Komisi VIII dari Fraksi PKB, Arzeti Bilbina, memberikan apresiasi terhadap pengesahan jilbab Polwan oleh Mabes Polri.
“Alhamdulillah sekali sekarang sudah disahkan. Artinya Polri sudah melihat kebutuhan perempuan dalam menggunakan jilbab,” tutur Arzeti dilansir Islampos, Sabtu (28/3/2015).
Menurut Arzeti, wacana jilbab Polwan ini sudah sejak lama digulirkan, akan tetapi dalam penetapannya ada saja hambatan yang disebutkan, salah satunya terkait anggaran.
“Saya yakin, jika institusi sudah mengesahkan, dengan sendirinya Polwan muslim akan mengenakan jilbab. Menutup aurat kan perintah Agama,” pungkasnya.
Arzeti menambahkan, ia berharap semoga TNI pun mengikuti jejak Polri. “Kita tunggu saja, karena ini kan sudah satu wacana,” demikian Arzeti. (Islampos.com)

NCID : Pecah Belah Parpol oleh Pemerintah Layak Disebut Tirani

Jakarta, Mediawarga.info – Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman mengungkapkan, sangat disayangkan partai – partai yang tadinya sudah menyatakan berada diluar pemerintahan kini seolah merasa paling benar dengan lantang bersuara akan mendukung pemerintah. Padahal jika kita melihat apa yang terjadi, kinerja DPR baik berada dalam oposisi maupun mendukung pemerintah perbedaannya hanya dapat jatah kursi jabatan atau tidak.

“Yang menarik adalah bagaimana proses yang dilalui oleh partai – partai oposisi yang kini menyatakan mendukung pemerintah. Intervensi dari pemerintah terlihat sangat jelas dengan memudahkan proses kepengurusan partai tanpa mempertimbangkan bagaimana proses kepengurusan tersebut terbentuk”, ujar Jajat melalui rilis yang diterima Mediawarga.info, Jum'at (27/03/2015).

Jajat menilai, suatu keputusan yang dikeluarkan sangatlah wajar bila ada para pihak yang menentang. Akan tetapi apakah masih dikatakan wajar bila keputusan yang dikeluarkan sekelas menteri akhirnya dimentahkan oleh pengadilan. Yang mengherankan adalah sikap Presiden malah terkesan diam dan tidak perduli akan kinerja menterinya, atau memang sengaja dibuat seperti itu karena Presiden juga diuntungkan dengan banyaknya partai yang mendukung pemerintahannya.

“Apakah ini yang disebut revolusi mental, yaitu memaksakan kehendaknya sendiri bahkan bila perlu menabrak aturan yang ada. Lantas apa artinya hukum yang harusnya dijadikan landasan namun tidak ditaati malah terkesan seperti tirani. Jika hukum sudah tidak di hormati lantas mau dibawa kemana negara ini, apa akan memakai hukum rimba ?”, tutup Jajat. (Rid)