Selamat Jalan Reformasi | Catatan Insiden IKIP Bandung 1998 - Mediawarga.info

Breaking

BANNER 728X90

5/15/2013

Selamat Jalan Reformasi | Catatan Insiden IKIP Bandung 1998

Ilustrasi Bentrokan Mahasiswa dan Aparat Keamanan
Mahasiswa IKIP Bandung sudah hampir delapan jam memblokade jalan provinsi Setiabudi yang merupakan jalan masuk dan keluar ke kota Bandung lewat jalur utara.

Pria yang mengaku dari kepolisian dan kodam meminta mahasiswa menarik diri dan membuka jalan, "Hari sudah sore, katanya" Dia kelelahan.

Mahasiswa duduk-duduk di jalan, sebagian yang masih suka berorasi terus saja bicara soal nasib rakyat yang sengsara akibat krisis moneter.

Pria dari kepolisian bilang ia akan menarik pasukannya ke bawah karena kampus NHI juga mulai menutup jalan. Satu dua dari pasukannya turun sambil berlari-lari pelan. Mahasiswa bersorak menang, mereka yang duduk mulai bangkit berteriak-teriak suka cita: Jalan masih kami kuasai, mahasiswa kuat tak dapat dikalahkan.

Pada mahasiswa Baryo dan @Yana Baehaqi, saya sampaikan untuk mencari wajah-wajah yang mungkin tidak dikenali dalam barisan mahasiswa. Ada satu pemuda gondrong dengan tas punggung dan bandana batik ala Axel Rose dari Gun n Roses Tuan Yana bilang, ia tidak mengenalnya sebagai anak IKIP. Saya memintanya memasang mata.

Tentara bergerak membentuk barisan. Sedikit menekan dan menghasilkan teriak perlawanan dari anak-anak mahasiswa. Dua orang dari mereka yang meminta jalan ingin menemui komandan, satu kemurahan yang membuka peluang pasukan cepat membentuk pagar sabit.

Sudah saatnya mahasiswa dibubarkan dengan cara apapun, jalanan harus dibuka, dan mereka hendak mendorong demostran ke arah kali kecil yang membatasi kampus IKIP dengan jalan setiabudi.

Tuan Yana berteriak memberi peringatan tetapi telat. Si anak muda melemparkan ke arah tentara batu bata yang disimpannya dalam tas ransel sambil ia berteriak serbu. Pada saat ia hendak mengeluarkan batu kedua, pasukan mendorong keras dengan pentungan dan gas air mata menciptakan kericuhan dan kekacauan barisan mahasiswa.

Saya tidak melepaskannya, ia saya pukul pada punduknya tiga kali dan dengan satu kali tendangan dia terjungkal ke jalan. Dalam kemelut dia saya tarik masuk ke belakang kampus dibantu seorang satpam yang saya pikir dia mengira anak itu adalah mahasiswa IKIP.

Asap menyakitkan mata, dan beberapa mahasiswi menangis karena kaget, banyak dari mereka yang saya lihat terpaksa melompat masuk kali kecil dipinggir jalan. Satu dua tentara merangsek masuk kampus memuaskan kebencian mereka pada mahasiswa.

Pada anak muda itu dia bilang dia mahasiswa sekolah hukum di Bandung. Bahwa dia melakukan itu karena memang dapat perintah tentara membuka blokade jalan dengan cara demikian.

Dikeluarkannya satu lagi batu-bata yang tidak sempat dilemparkannya, dan handphone yang dia bilang dikasih komandan. Ia bilang ia juga dikasih pulsa dan uang.

"Ada tiga orang dari kami di sini...dan ada banyak lagi di tempat lain." Dia berkata dengan wajah pilu. Dan dengan terbata-bata dibereskannya bandana ke dalam ransel, lalu dia menunduk-nunduk menghilang ke arah jalan. Dari banyak kejadian di lima belas tahun lalu, selalu saja saya ingatkan wajah mudanya yang menyedihkan.
 
Oleh : Andi Hakim
Sumber: https://www.facebook.com/andihakim03/posts/10151560458080502?comment_id=25891561&notif_t=like

Tidak ada komentar:

Posting Komentar