"Serbuk Keajaiban" untuk Pelaku PNPM Mandiri Perkotaan.‪#‎CoretanRidwan‬ - Mediawarga.info

Breaking

BANNER 728X90

4/12/2015

"Serbuk Keajaiban" untuk Pelaku PNPM Mandiri Perkotaan.‪#‎CoretanRidwan‬

Ilustrasi : Aksi Solidaritas Fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan (Istimewa) 

Mediawarga.info--Status Pak Arief Rahadi di Facebook, Jum’at (10/04/2015), tentang pengakhiran program PNPM Mandiri Perkotaan menjadi trending topic di time line para pelaku PNPM Mandiri Perkotaan selain postingan Mediawarga.info terkait surat perpanjangan kontrak fasilitator P2KP-Kota dari Direktur Bangkim yang tembus 2000 hits kurang dari 24 jam. Bahkan status Pak Arief itu berseliweran di Grup BBM.

Mengapa kedua isu tersebut menjadi trending topic?

Mengutip komentar Pak Parwoto Tjondro Sugianto di status Pak Arief Rahadi, beliau menuliskan "Membaca semua ini hati jadi sendu. Jangan lupa kita masih harus berjuang untuk melestarikan nilai nilai yg sempat kita bangun".

Kemudian ditambah komentar Pak Sujana Royat yang mengungkapkan keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan adalah hasil kerja keras dan komitmen teman teman di PNPM Perkotaan.

"Semoga ini menjadi amal ibadah teman teman di PNPM perkotaan dan menjadi surganya yang telah disiapkan dengan papan nama, surga ini diperuntukkan untuk para penggiat dan pelaku PNPM Perkotaan yang bekerja dengan jujur dan ikhlas" Tulis Pak Sujana.

Bagi pelaku PNPM Mandiri Perkotaan yang sudah lama berkiprah sejak awal, ada ikatan emosional tersendiri ketika PNPM Mandiri Perkotaan (dulu P2KP) akan berakhir. Karena mereka dengan susah payah membangun Program ini sejak awal (tahun 1998/1999). Program ini tidak hanya sekedar proyek tapi melakukan sebuah 'transformasi sosial" ditengah masyarakat.

"PNPM Mandiri bagi kami bukan sekedar proyek atau program. Kami sudah memulai revolusi mental atau paradigm shift sejak 1999 sebelum istilah revolusi mental menjadi motto politik. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan." tegas Pak Sujana.

Saya pernah buat tulisan yang dimuat salahsatu media massa dengan judul "Reformasi yang Sunyi" terkait Program PNPM Mandiri Perkotaan (dulu P2KP), menggambarkan bahwa melalui Program Penaggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), masyarakat biasa benar-benar diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sehingga sekat feodalisme desa kita "dobrak" dan masyarakat dibebaskan memilih pemimpinnya secara demokratis, dan meminjam istilah Pak Parwoto dalam tulisannya, "Terjadi Proses Pertumbuhan organik" dalam transformasi sosial di masyarakat.

Kemudian, tahun 2007 P2KP bersama Program Pengembangan Kecamatan (PPK) menjadi bagian PNPM Mandiri. Program ini diharapkan menjadi "Umbrella Program" agar penanggulangan kemiskinan di Indonesia lebih terpadu dan terintegrasi. Ruh yang diusung tetap nilai-nilai dan prinsip yang ada di P2KP dan PPK. Bahkan, Para pemimpin kita di PNPM Mandiri benar-benar berjibaku mempertahankan "mati-matian" konsep PNPM Mandiri, seperti yang diungkapkan oleh Pak Sujana Royat dalam status Pak Arief Rahadi.

"Ini sejarah yang harus saya ungkapkan juga. Waktu jaman saya, semua eselon I yang di pokja Pengendali PNPM siap dipecat membela PNPM, waktu ditekan oleh DPR dan kami diusir dari raker dengan DPR karena kami tetap ngotot tidak mau mengubah SOP PNPM dengan membuka peluang agar kontraktor masuk untuk mengerjakan kegiatan di PNPM Mandiri, kami terima dengan sabar. Karena sampai mati prinsip PNPM harus jalan, dari, oleh dan untuk masyarakat dan direncanakan, dilaksanakan dan diawasi oleh masyarakat. Beberapa teman eselon I memilih mengundurkan diri pensiun dini dari pokja karena ditekan menterinya untuk menerima kader partai untuk jadi fasilitator PNPM. Pak Ayip Dirjen PMD sampai by pass operasi jantung karena selalu gigih membela PNPM perdesaan dalam rapat kerja dengan DPR waktu itu." Ungkap Pak Sujana.

Sudah seharusnya, kami pelaku PNPM Mandiri dilapangan berterima kasih kepada pemimpin-pemimpin kami yang telah membela program ini tetap eksis. Tapi apa lacur, dengan pergantian rezim ini, program pemberdayaan terbesar dan telah diakui dunia internasional ini harus berakhir dengan mengatasnamakan "Visi dan Ideologi" penguasa baru.

Namun, sesepuh kita Pak Parwoto Tjondro Sugianto menghibur kita dengan kalimat yang sangat bijak : "Ayo galang lagi semua pihak utk bersama kita bisa melestarikan nilai nilai luhur bangsa kita. Ayooo teman jangan terperangkap dgn nama dan atribut"

Iya, Pak Par, kami setuju dengan kata-kata Bapak. Kita jangan terjebak dengan nama, toh kita bekerja untuk masyarakat, bukan untuk sebuah rezim, walaupun kita 'Dibayar' oleh Pemerintah, toh uang itu dari Rakyat juga, kenapa kita harus lihat rezimnya.

Tapi, jika rezim ini berupaya politisasi program lanjutan ini, tentu kita yang terdepan menjadi "Herder penjaga", supaya ruh pemberdayaan ini tetap terjaga. Insaa Allah MediaWarga.info akan menjadi bagian "Watchdog" Program lanjutan rezim ini. 

Tulisan ini banyak dikementari oleh Netizen salahsatunya oleh Pak Hari Prasetyo, beliau tokoh senior PNPM Mandiri Perkotaan dari Jawa Timur. Pak Hari Prasetyo mengatakan "Secara programatik, pnpm urban boleh sirna. Tetapi prinsip dan nilai sebagai esensi dari pnpm urban harus tetap lestari menembus ruang dan waktu. Oleh karenanya, sudah saatnya ujung waktu ini kita semua menyampaikan terimakasih kepada masyarakat, utamanya warga miskin. Karena, merekalah pemain utama dan pemain sejatinya. Kita semua bukanlah pelatih atau wasit, tetapi hanya sekedar menunjukkan jalan menuju arena ....”

Kemudian beliau menambahkan :

“Marilah kita baca secara cermat dan mengambil makna esensi dari SK Menteri PU PERA No. 137/2015 dalam lampiranya ada Satker Pengembangan Kawasan Permukiman Berbasis Masyarakat (PKPBM) yang menaungi setidaknya 3 program utama berbasis pemberdayaan yaitu Pembinaan Kawasan Permukiman di Perdesaan (PPIP); Pembinaan Infrastruktur Wilayah (PISEW) dan Pembinaan Kawasan Permukiman di Perkotaan (P2KP). Intinya, ada pengakuan bahwa pendekatan pemberdayaan masih dianggap cara dan pendekatan terbaik dalam dalam pembangunan infrastruktur dan pembangunan lainnya. Makna inilah yang saya maksud dengan : Secara programatik, pnpm urban boleh berakhir, tapi esensi program akan menembus ruang dan waktu”.

Tidak hanya Pak Hari Prasetyo yang memberikah komentar, Teh Nina Razad editor  Website www.p2kp.org  juga turut berkomentar. Nina Razad mengatakan Perjuangan para pejabat seperti yang diungkapkan Aki Ojon Sujana Royat sungguh mengharukan. Mereka inilah yang layak mendapat surga. Mereka mungkin hanya segelintir perjabat yang peduli, tapi berkat mereka puluhan bahkan ratusan juta rakyat Indonesia mendapatkan manfaat dari program ini.

"Di sisi lain, saya setuju dengan ucapan Pak Parwoto Tjondro Sugianto dan Pak Hari Prasetyo yang mengimbau agar kita terus membawa esensi nilainya, tidak terjebak atribut. Ya. Namanya program pasti ada selesainya, tapi misi dan visi membangun bangsa tak boleh ada habisnya" Tulis Nina Razad.


Kemudian Teh Nina mengutip pepatah, "Momen terbaik untuk berhenti adalah ketika masih di puncak. Dengan begitu gregetnya akan selalu menghentak."


Teh Nina mengajak kita pelaku PNPM Mandiri Perkotaan untuk tetap semangat. "So, semangatlah kawan-kawan. Kita adalah manusia-manusia yang punya skill dan ilmu maka gunakanlah itu untuk sebaik-baiknya bangsamu. Salam sayang dari Jakarta." Ungkap Teh Nina, mengakhiri komentarnya.

Terakhir, atas itu semua, kami Fasililtator di pengakhiran PNPM Mandiri Perkotaan-P2KP, perlu berterima kasih kepada tokoh-tokoh P2KP yang dari awal berjuang, Pak Sujana Royat, Pak Boby Ali Azhari, Pak Arief Rahadi, Pak Parwoto Tjondro Sugianto, Ibu Marnia Nes, Ibu Kumala Sari, Ibu Evi Hermirasari Pak Ayi Sugandhi, Pak George Soraya, Pak Sonny H Kusuma Pak Medhy Achmad Ibu Jana H. uno, Kemudian dari jajaran KMP Pak Kurniawan Zulkarnain Kurniawan Zulkarnain, Pak Ibnu Taufan PakEndang Hernawan Pak Catur Wahyudi, Pak Hari Prasetyoyo, Ibu Neng Iroh R. Fatah, Teh Nina Razad dan Kang Dedi Yuliarto yang mengawal melalui Official Website P2KP/PNPM Mandiri Perkotaan, Tidak lupa eks Editornya Mbak Syamsu Budiyanti, Pak Jack Tafjani Kholil Kholil, dan jajaran KMP lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu...

Saya ingin mengirimkan "serbuk keajaiban"...Terima kasih...Terima kasih..Terima kasih..."Reformasi sunyi" itu telah berhasil... (Bandar Lampung, 10 April 2015).


Oleh: Muhammad Ridwan
Citizen Reporter di Mediawarga.info 
Bisa dikontak melalui
www.facebook.com/akhina.ridwan
www.twitter.com/muhridwan78
muh_ridwan78@yahoo.co.id

1 komentar:

  1. Mantap.. Lanjutkan
    PNPM memang harus tetap eksis
    http://www.pnpmpalas.tk

    BalasHapus